Disebuah desa yang berlokasi di
bukit cinta, terdapat seorang gadis yang sangat cantik. Parasnya yang cantik
rupawan menggetarkan setiap mata lelaki. Gadis itu bernama Diandra Putri
Lestari. Diandra berumur 21 tahun. Dia hidup di keluarga berkecukupan dan anak
tunggal. Ayahnya bernama andre, dia seorang pemilik lahan perkenunan sayur. Bundanya
bernama dira, ia ibu rumah tangga. Ayah dan bunda diandra sangat menyanyainya,
karena dialah putri satu-satunya yang mereka punya. Apapun yang diminta olehnya,
akan terpenuhi. Namun diandra bukanlah anak yang suka menghambur-hamburkan uang.
Dia mengerti kalau mencari uang itu sangat susah.
Saat ini ia baru saja
menyelesaikan kuliahnya, dia lulus dengan nilai cukup. Kemampuan belajarnya
tidak mampu membuatnya menjadi lulusan terbaik. Ia sedih karena tidak bisa
membanggakan kedua orang tuanya. Namun, ia tak patah semangat. Diandra dengan
semangat mencari pekerjaan. Kantor demi kantor ia datangi, namun tak satupun
ada yang menerimanya. Sudah 3 bulan ia dirumah membantu pekerjaan ayah
bundanya. Stress karena belum dapat pekerjaan hinggap dikepalanya. Setiap malam
ia memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa menghasilkan uang sendiri. Beban
pikiran yang mengganggu diandra disadari oleh bundanya. Bundanya memperhatikan
diandra yang sedang melamun. Bundanya mendekati diandra dan memeluknya, ia
berkata “kenapa kamu di, ko melamun? Apa yang sedang kamu pikirkan di?”.
Seketika diandrapun terkejut karena tiba-tiba bundanya memeluknya dan bertanya
seperti itu. Lantas diandra menjawab “aku hanya kepikiran bun, aku kepikiran
kenapa sampai saat ini aku belum bekerja, aku ingin menghasilkan uang sendiri
bun, aku ingin membahagiakan dan membanggakan bunda dan ayah” (sambil terus
memeluk bundanya). Akhirnya bundanya tahu kenapa putrinya melamun seperti tadi.
Kemudian bundanya keluar menemui ayah yang sedang mengawasi para pekerjanya.
Bunda bercerita tentang apa yang dipikirkan oleh putrinya. Ayahnya memahami
betul perasaan putrinya itu. Setelah bunda bercerita pada ayah, ayah berpikir
apa yang harus ia lakukan agar putrinya mempunyai penghasilan sendiri. Ayah
berpikir dan terus berpikir. Akhirnya ayah menemukan jawabannya.
Saat makan malan diruang makan, ayah
melihat diandra yang kembali melamun. Ayah dengan mencubit hidungnya, mengbangunkan
diandra dari lamuannya “nak, ayah mau ngomong sama kamu, kalau kamu ikut ayah
mengelola perkebunan sayur, apakah kamu mau? Nanti keuntungan kita bagi menjadi
2” tanya ayah diandra. Senyum merekah dibibir diandra dan ia menjawab “ aku mau
yah, aku mau bantuin ayah mengelola perkebunan itu yah, tapi nanti ayah ajarin
aku ya”. Ayah menjawab dengan senyuman.
Keesokan harinya, dengan
semangat 45 diandra langsung bergegas siap-siap untuk ke kebun. Ia
melihat-lihat hasil sayuran yang siap dipanen. Dia mendekati ibu-ibu yang
sedang panen buah tomat. Ia melihat tomat yang ibu itu petik. Diandra kembali
berjalan menyusuri lahan perkebunan. Ia mengawasi para pekerja agar bekerja
dengan rajin. Capek berkeliling, dia kembali ke kantor milik ayahnya, ia laporan
pada ayahnya kalau semua pekerja sudah bekerja dengan rajin. Pekerjaan itu ia
lakukan kurang lebih 3 tahun. Dia sekarang menjadi pewaris dari lahan
perkebunan ayahnya. Faktor usia yang mengharuskan ayahnya mewariskan lahan itu
untuk dikelola oleh putrinya. Ayah dan bundanya sekarang sedang menikmati masa
tua mereka.
Suatu ketika, saat umur diandra 27
tahun. Pertanyaan tentang kapan menikah sering ia dengar dari ayah dan
bundanya. Diandra yang sampai saat ini belum memiliki calon pendamping dan
belum kepikiran untuk menikah merasa risih dengan pertanyaan itu.
BERSAMBUNG . . . . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar